Jumat, 15 April 2016

PROSES PEMBENTUKAN URINE

PROSES PEMBENTUKAN URINE


  KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , karena berkat dan rahmat Beliau kami dapat menyelesaikan tugas biology yang berkaitan dengan masalah proses pembentukan urine yang sangat sederhana ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Dalam tugas ini kami menyajikan data-data yang didapat  dari internet dan beberapa buku panduan untuk melengkapi laporan ini.
Meskipun masih sangat sederhana dan penyajiannya masih belum sepenuhnya sempurna, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakuakan secara sengaja maupun tidak sengaja.
Demikian laporan ini kami buat. Kami berharap agar nantinya tugas  ini dapat bermanfaat.






                                                                                                Padang, april 2016
     








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang  
Urine (dari bahasa Latin Urina) adalah cairan biasanya steril oleh-produk dari tubuh dikeluarkan oleh ginjal melalui proses yang disebut buang air kecil dan dikeluarkan melalui uretra. Metabolisme sel menghasilkan banyak oleh-produk, yang kaya akan nitrogen, yang memerlukan penghapusan dari aliran darah. Ini oleh-produk yang akhirnya dikeluarkan dari tubuh dalam proses yang dikenal sebagai berkemih, metode utama untuk buang air-larut bahan kimia dari tubuh. Bahan kimia ini dapat dideteksi dan dianalisis dengan urine. Kondisi penyakit tertentu dapat menyebabkan patogen-terkontaminasi urin.
Tujuan penyajian makalah ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Urine dan proses pembentukannya.
B.     Permasalahan
1.      Bagaimana penjelasan dari Urine?
2.      Apa faktor yang mempengaruhi proses urinasi?
3.      Bagaimana pembentukan urine?
4.   Apa saja komposisi dari urine ?
5.   Apa saja gangguan atau kelainan pada masalah urine ?

C.    Tujuan dan Manfaat
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok yang di berikan oleh Guru Biologi kelas IX C dan untuk menambah wawasan kita tentang apa yang akan di bahas dalam tugas kali ini.

D.    Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah media kepustakaan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Urine

1.     Pengertian
Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urine disaring didalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Ciri – Ciri urine normal:
1.      Volume
Urine rata – rata : 1L – 1,5L setiap hari; tergantung luas permukaan tubuh dan intake cairan.
2.      Warna
Kuning bening oleh adanya urobilinogen. Secara normal warna dapat berubah, tergantung jenis bahan/obat yang dimakan.
3.      Bau
Urine baru memiliki bau khas sebab adanya asam – asam yang mudah menguap. Urine yang lama baunya tajam sebab adanya NHdari pemecahan ureum dalam urine. Bau yang busuk karena adanya nanah dan kuman – kuman. Sedangkan bau yang manis karena adanya asetan.
4.      Berat jenis urine
Normal                  : 1,002-1,045
Rata – rata             : 1,008
5.      pH urine
kurang lebih pH = 6 atau sekitar 4,8 – 7,5 dengan rekasi pada kertas lakmus: urine asam: merah, urine basa: biru.

2.     Faktor yang Mempengaruhi Proses Urinasi
Proses pembentukan urin dipengaruhi oleh dua faktor  yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a.      Faktor Internal
1)      Hormon Antideuritik (ADH)
Hormon antideuritik dikeluarkan oleh kelenjar saraf hipofifis (neuroehipofisis). Pengeluaran hormon ini ditentukan oleh reseptor khusus di dalam otak yang secara terus menerus mengendalikan tekananan osmotik darah (kesetimbangan konsentrasi air dalam darah). Oleh karena itu, hormon ini akan mempengaruhi proses reabsorpsi  air pada tubulus  kontortus distal, sehingga permeabilitas sel terhadap air akan meningkat. Oleh karena cara bekerja dan pengaruhnya inilah, hormon tersebut disebut sebagai hormon antideuritik.
 Jika tekanan osmotik darah naik, yaitu pada saat dalam keadaan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh (saat kehausan atau banyak mengeluarkan keringat), konsentrasi air dalam darah akan turun. Akibat dari kondisi tersebut, sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh darah menuju ke ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, juga mengkatkan permeabilitas saluran pengumpul, sehingga memperbesar sel saluran pengumpul. Dengan demikian air akan berdifusi ke luar dari pipa pengumpul, lalu masuk ke dalam darah. Keadaan tersebut akan berusaha memulihkan konsentrasi air dalam darah. Namun akibatnya, urine yang dihasilkan menjadi sedikit dan lebih pekat.

2)      Hormon Insulin
Hormon insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pulau langerhans dalam pankreas. Hormon insulin berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes mellitus) memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi. Akibatnya terjadi gangguan reabsorpsi didalam  urine masih terdapat glukosa.



3)      Saraf
Stimulus pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus afferen. Hal ini menyebabkan aliran darah ke glomerulus menurun dan tekanan darah menurun sehingga filtrasi kurang efektif. Hasilnya urine yang diproduksi meningkat.
4)      Tonus otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine.
5)      Usia
Pengeluaran urine usia balita lebih sering karena balita belum bisa mengendalikan rangsangan untuk miksi dan makanan balita lebih banyak berjenis cairan sehingga urine yang dihasilkan lebih banyak sedangkan pengeluaran urin pada lansia lebih sedikit karena setelah usia 40 tahun, jumlah nefron yang berfungsi biasanya menurun kira-kira 10% tiap tahun.

b.      Faktor Eksternal
1)      Zat-zat diuretik 
Misalnya teh, kopi, atau alkohol dapat menghambat reabsorpsi ion Na+. Akibatnya ADH berkurang sehingga reabsorpsi air terhambat dan volume urin meningkat.

2)      Suhu lingkungan
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran air kencing pun banyak.

3)      Gejolak emosi dan stress
Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil.

4)      Jumlah air yang diminum
Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika meminum banyak air, konsentrasi air dalam darah akan tinggi, dan kosentrasi protein dalam darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang. Selain itu, keadaan seperti ini menyebabkan darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan menyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urine yang dihasilkan akan meningkat dan encer.

5)      Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.

6)      Life Style dan aktivitas
Seorang yang suka berolahraga, urine yang terbentuk akan lebih sedikit dan lebih pekat karena cairan lebih banyak digunakan untuk membentuk energi sehingga cairan yang dikeluarkan lebih banyak dalam bentuk keringat.

3.     Pembentukan Urine
Proses pembentukan urin dibagi menjadi tiga tahapan yaitu Tahap filtrasi, reabsorpsi, dan augmentasi. Proses ini pada tubuh manusia terjadi di organ tubuh bagian Ginjal yang merupakan alat dan system ekskresi pada manusia. Urin sendiri mempunyai definisi yaitu air yang diekskresikan oleh ginjal kemudian akan disimpan dalam kantung kemih (Organ tubuh yang mengumpulkan air kencing yang dikeluarkan oleh ginjal sebelumnya dibuang) dan dikeluarkan dari tubuh melalui uretra atau proses urinasi (Saluran dan yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh). Fungsi Urin dalam tubuh adalah untuk membuang zat yang sifatnya beracun bagi tubuh dan urin pun bisa menjadi sebuah penunjuk dehidrasi. Pada umumnya, Urin berwarna bening seperti air namun untuk orang-orang yang mengalami dehidrasi, urin yang akan dikeluarkan berwarna kuning.

3 hal penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urin, yaitu :
1.)              Filtrasi (Penyaringan)
Filtrasi merupakan proses penyaringan darah dari zat zat sisa metabolisme yang dapat meracuni tubuh.
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapilerglomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan danpermeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.
Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya.

2.)              Reabsorpsi (Penyerapan)
Reabsorpsi merupakan proses penyerapan kembali filtrat glomerulus yang masih bisa digunakan oleh tubuh.
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer diserap kembali di tubulus kontortus proksimal.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.

3.)              Augmentasi (Pengumpulan)
Augmentasi merupakan proses pengeluaran zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dalam bentuk urine.
Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menujukantung kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra.
                                                                                                               
4.      KOMPOSISI DARI URINE
Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra :
1.      Air, kurang lebih 95%
2.      Urea, Amonia, dan asam urin yang merupakan hasil metabolisme protein.
3.      Garam-Garam mineral, terutama garam dapur (NaCl).
4.      Zat warna Empedu (bilirubin dan biliverdin), yang menyebabkan warna kuning pada urin.
5.      Zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti hormon dan vitamin.


5.      GANGGUAN / KELAINAN MASALAH PADA URINE
1. Albuminuria
Urine mengandung albumin (protein) yang disebabkan oleh kerusakan pada glomerulus.
Tanda: urine banyak mengandung albumin serta protein
Penyebab : kerusakan alat filtrasi
Akibat: tubuh kekurangan albumin yang menjaga agar cairan tidak keluar dari darah
2. Diabetes insipidus
Penyakit kekurangan hormon vasopresin atau hormon antidiuretik (ADH) yang mengakibatkan hilangnya kemampuan mereabsorpsi cairan. Akibatnya, penderita bisa mengeluarkan urine berlimpah mencapai 20 liter.
Tanda : meningkatnya jumlah urine (20 – 30 kali lipat)
Penyebab : kekurangan hormon antidiuretika (ADH)
Akibat : sering buang urine
Pengobatan : pemberian ADH sintetik
3. Diabetes melitus
Terdapat glukosa dalam urine. Terjadi karena menurunnya hormon insulin yang dihasilkan pankreas.
Tanda : kadar glukosa darah melebihi normal
Penyebab : kekurangan hormon insulin
Akibat : luka sulit sembuh
Pengobatan : pada anak-anak diberi insulin secara rutin dan pada dewasa dilakukan diet rutin, olahraga dan pemberian obat penurun kadar glukosa darah
4. Batu ginjal
Adanya endapan garam kalsium di dalam kantong kemih
Tanda: urine sulit keluar karena tersumbat batu pada ginjal, saluran ginjal atau kandung kemih
Penyebab: konsentrasi unsur-unsur kalsium  terlalu tinggi dan dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan saluran ureter
Akibat: sulit mengeluarkan urine, urine bercampur darah.
Pencegahan: Minum air putih sekurang-kurangnya 2 liter sehari dan Kurangi makanan yang mengandung garam dan banyak minyak
5. Gagal ginjal
Ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga harus dibantu dengan cuci darah atau cangkok ginjal.
Tanda : Meningkatnya kadar urea dalam darah karena ginjal sudah tidak berfungsi menyaring darah dari zat-zar sisa metabolisme.
Penyebab : nefritis (radang ginjal)
Akibat : zat-zat yang seharusnya dibuang oleh ginjal tertumpuk dalam darah
Pengobatan : cuci darah secara rutin atau cangkok ginjal
6. Hematuria
Urin mengandung darah karena adanya kerusakan pada glomerulus.
Tanda: urine mengandung darah
Penyebab: peradangan organ urinaria atau karena iritasi akibat batu ginjal.
  




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal.
2.      Pembentukan urine melalui 3 proses: filtrasi, reabsorpsi dan augmentasi
3.  Saluran yang dilewati oleh darah setelah difiltrasi oleh glomeruli dari awal hingga akhir sebagai berikut:  glomerulus  → kapsula Bowman  → tubulus kontortus proksimal → loop of Henle → tubulus kontortus distal → tubulus koligen → tubulus collectivus → kaliks minor → kaliks mayor → pelvis renalis →ureter → vesica urinaria → urethra.
B.     Saran
Dengan ditulisnya tugas  ini diharapkan agar penulis serta pembaca dapat memahami dan mengerti mengenai urine, guna menambah wawasan dalam dunia medis.

Selasa, 12 April 2016

ASKEP DIFTERY


PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini  disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh karier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.
Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak - anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita.

1.2  Tujuan
1.      Tujuan umum
Mengetahui konsep difteri dan keperawatan difteri pada anak.
2.      Tujuan khusus
      Agar mampu memahami/ mengetahui tentang :
a.       Definisi difteri
b.       Etiologi
c.       Tanda dan Gejala
d.       Patofisiologi
e.       Penatalaksanaan Medis
f.        Komplikasi
g.   Pencegahan
h.      Asuhan Keperawatan Difteri
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae. (Iwansain.2008).
Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan bentuk basil batang gram positif (Jauhari,nurudin. 2008).
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun Corynebacterium diphteriae. (Fuadi, Hasan. 2008).
Jadi kesimpulannya difteri adalah penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae.

2.2 Etiologi
Penyebabnya adalah Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi  oleh bakteri. Biasanya bakteri ini berkembangbiak pada atau disekitar selaput lender mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Pewarnaan sediaan langsung dapat dialkuakan dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.
Menurut Staf Ilmu Kesehatan Anak FKUI dalam buku kuliah ilmu kesehatan anak, sifat  bakteri Corynebacterium diphteriae :
1.      Gram positif
2.      Aerob
3.      Polimorf
4.      Tidak bergerak
5.      Tidak berspora


Disamping itu bakeri ini dapat mati pada pemanasan 60º C selama 10 menit, tahan beberapa minggu dalam es, air, susu dan lendir yang telah mengering.Terdapat tiga jenis basil yaitu bentuk gravis, mitis, dan intermedius atas dasar perbedaan bentuk koloni  dalam biakan agar darah yang mengandung kalium telurit. Basil Difteria mempunyai sifat:
1.      Mambentuk psedomembran yang sukar dianggkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang meliputi daerah yang terkena.terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan kuman.
2.      Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf.
Menurut tingkat keparahannya, Staff Ilmu Kesehatan Anak FKUI membagi penyakit ini menjadi 3 tingkat yaitu :
a)      Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
b)      Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyaring sampai faring (dinding belakang rongga mulut), sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
c)      Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai  dengan gejala komplikasi  seperti miokarditis (radang otot jantung), paralysis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

Menurut  bagian ilmu kesehatan anak FKUI, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien :
1.      Difteri hidung
Gejala paling ringan dan paling jarang (2%). Mula-mula tampak pilek, kemudian secret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran. Penyebaran pseudomembran dapat mencapai faring dan laring.

2.      Difteri faring dan tonsil ( Difteri Fausial ).
Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. Paling sering dijumpai ( 75%). Gejala mungkin ringan tanpa pembentukan pseudomembran. Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita.Pada kondisi yang lebih berat diawali dengan radang tenggorokan dengan peningkatan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, pseudomembran awalnya hanya berupa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring, nafas berbau, dan ada pembengkakan regional leher tampak seperti leher sapi (bull’s neck). Dapat terjadi sakit menelan, dan suara serak serta stridor inspirasi walaupun belum terjadi sumbatan laring.
3.      Difteri laring dan trakea
Lebih sering merupakan penjalaran difteri faring dan tonsil, daripada yang primer. Gejala gangguan nafas berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat timbul sesak nafas hebat, sianosis, dan tampak retraksi suprasternal serta epigastrium. Ada bull’s neck, laring tampak kemerahan dan sembab, banyak sekret, dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali perlu dilakukan trakeostomi sebagai pertolongan pertama.

4.      Difteri kutaneus dan vaginal
Dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membrane diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi justru tidak terasa apa-apa. Difteri dapat pula timbul pada daerah konjungtiva  dan umbilikus.

5.  Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga
            Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau.

2.3 Patofisiologi
·         kuman berkembang biak pada saluran nafas atas, dan dapat juga pada vulva,kulit mata,walaupun jarang terjadi.
·         Kuman membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudo membran timbul lokal dan menjalar dari faring, laring dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening akan tampak membengkak dan mengandung toksin.
·         Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul mralisis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf.
·         Sumbatan pada jalan nafas sering terjadi akibat dari pseudo membran pada laring dan trakea clan dapat menyebabkan kondisi yang fatal.

2.5 Manifestasi Klinis
a.       Gejala umum.
Demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia sehingga pasien tampak lemah.
b.      Gejala lokal
Nyeri menelan, bengkak pada leher karena pembengkakan pada area regional, sesa nafas, serak sampai dengan stridor jika penyakit sudah stadium lanjut.  Gejala akibat eksotoksin tergantung bagian yang terkena missal mengenaiotot jantung terjadi miokarditis, dan bila mengenai syaraf mnyebabkan kelumpuhan.

2.6 Penatalaksanaan
Pengobatan umum dengan perawatan yang baik, isolasi dan pengawasan EKG yang dilakukan pada permulan dirawat satu minggu kemudian dan minggu berikutnya sampai keadaan EKG 2 kali berturut-turut normal dan pengobatan spesifik.
Pengobatan spesifik untuk difteri :
1.      ADS (Antidifteri serum), 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya harus dilakukan uji kulit dan mata.
a.       TEST ADS
ADS 0,05 CC murni dioplos dengan aquades 1 CC.
Diberikan 0,05 CC à intracutan Tunggu 15 menit à indurasi dengan garis tengah 1 cm à (+)
b.      CARA PEMBERIAN
·         Test Positif à BESREDKA
·          Test Negatif à secara DRIP/IV
c.       Drip/IV
200 CC cairan D5% 0,225 salin. Ditambah ADS sesuai kebutuhan. Diberikan selama 4 sampai 6 jam à observasi gejala cardinal.
2.     Antibiotik, diberikan penisillin prokain 5000U/kgBB/hari sampai 3 hari bebas demam. Pada pasien yang dilakukan trakeostomi ditambahkan kloramfenikol 75mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis.
3.     Kortikosteroid, untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat membahayakan, dengan memberikan predison 2mg/kgBB/hari selama 3-4 minggu. Bila terjadi sumbatan jalan nafas yang berat dipertimbangkan untuk tindakan trakeostomi. Bila pada pasien difteri terjadi komplikasi paralisis atau paresis otot, dapat diberikan strikin ¼ mg dan vitamin B1 100 mg tiap hari selama 10 hari.

2.7 Komplikasi
·         Miokarditis (minggu ke 2)
·         Neuritis
·         Bronkopneumonia
·         Nefritis
·         Paralisis



2.8 Pemeriksaan penunjang
·         Pemeriksaan laboratorium: Apusan tenggorok terdapat kuman Corynebakterium difteri
·          Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin terdapat albuminuria ringan
·         Pemeriksaan bakteriologis mengambil bahan dari membrane atau bahnan di bawah membrane, dibiak dalam Loffler, Tellurite dan media blood.
2.9  Pencegahan
1.      Imunisasi
a. Imunisasi Primer
·         Anak usia 6 minggu - 6 tahun Diberikan dosis Td secara IM/ SC dengan interval 4-6 minggu dimulai ketika anak usia 6 minggu - 2 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ke-4 selama 1 tahun sesudah pemberian ke-3 preparat yang digunakan adalah Pediatric Taksoid Dipteria
·         Anak usia 7 tahun / lebih Diberikan Td dengan pemberian ke-2 berselang waktu 4-8 minggu diberikan dengan pemberian 1 dan pemberian 3 berselang 1 tahun dengan pemberian ke-2, preparat yang digunakan adalah Adult Taksoid Dipteria
b. Imunisasi Boster
·         Anak usia 6 minggu- 6 bulan apabila pemberian dosis ke-4 imunisasi primer anak belum berumur 4 tahun maka diberikan boster ketika anak tersebut mulai masuk TK
·         Anak usia 7 tahun atau lebih diberikan boster setiap 10 tahun 1.9.2 Isolasi pasien
c. Pencarian orang carier difteria dengan uji shick dan kemudian diobati.
·         Dengan tujuan : Untuk mengetahui apakah tubuh mengandung anti toksin terhadap kuman difteri.
·         Cara : Dengan menyuntikan IC 1/50 Minimal Lethal Dose (MLD) sebanyak 0,02 ml, jika positif akan terlihat merah kecoklatan selama 24 jam



















BAB III
ASKEP TEORITIS

3.1       Pengkajian
A.  Identitas klien
Biasanya menyerang pada individu yang berusia kurang dari 15 tahun (yang tidak dapat imunisasi lengkap).
B.  Keluhan utama
Pada biasanya klien akan mengeluh batuk dan demam.
C.      Riwayat penyakit sekarang
Demam, Sakit Kepala, Batuk, lesu/ lemah, sianosis, sesak nafas, dan pilek.
a.    Difteri nasal : Sakit jantung serosa inguinosa, epistaksis, ada membrane putih pada septum nadi.
b.    Difteri tonsil dan faring : Panas tidak tinggi, nyeri telan ringan, mual, muntah, nafas berbau, dan Bullneck.
c.    Difteri laring dan trachea : Sesak nafas hebat, stridor inspirator, terdapat retraksi otot supra sternal dan epigastrium, laring tampak kemerahan, sembab, banyak secret, permukaan tertutup oleh pseudomembran.





D.  Riwayat kesehatan keluarga
Dimungkinkan ada keluarga/ lingkungan yang menderita penyakit Difteria.

E.  Riwayat imunisasi
Imunisasi DPT 1, 2, 3 pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan yang kurang memadai.

F.  ADL
a.       Nutrisi: kesulitan menelan, anoreksia, sakit tenggorokan.
b.      Eliminasi: terjadi konstipasi.
c.       Istirahat tidur: sukar tidur.
G.  Pemeriksaan
a. Pemeriksaan umum
o   Kesadaran : compos mentis sampai dengan coma
o   TD: turun
o   RR: cepat dan dangkal
o   Nadi: cepat
o   Suhu : peningkatan suhu tubuh
b. Pemeriksaan fisik
o   Wajah: sianosis
o   Hidung : terdapat secret berbau busuk sedikit bercampur darah, ada membran putih pada septum nasi
o   Mulut: bibir kering, mulut terbuka, ada membran putih pada tonsil dan faring

o   Leher:pembesaran getah bening pada leher, edema pada laring dan trachea (Bullneck), permukaan laring dan trachea tertutup oleh pseudomembran

c. Pemeriksaan penunjang
·         Laboratorium
a.       Bakteriologi: Hapusan tenggorokan di temukan kuman corinebakterium difteria
b.      Darah : Penurunan kadar HB dan leukosit polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin.
c.       Skin test :  Test kulit untuk menentukan status imunitas
G. Diagnosa keperawatan
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif
2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
H. Aplikasi Nanda Nic Noc
Dx 1 : ketidakefektifan jalan nafas
Noc
-          Respiratory status : ventilation, airway suction
Kriteria hasil :
-          Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
-          Menunjukkan jalan nafas yang paten
Nic
-          Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
-          Berikan o2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal
-          Gunakan alat yang steril untuk melakukan tindakan
-          Anjurkan pasien untuk istirahat dan nafas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal.
Dx 2 : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Noc
-          Nutritional status : food and fluid intake
-          Weight control
Nic
Nutrition management
-          Kaji adanya alergi makanan
-          Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
-          Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
-          Anjuekan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
-          Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi







BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae. (Iwansain.2008).
Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan bentuk basil batang gram positif (Jauhari,nurudin. 2008).
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun Corynebacterium diphteriae. (Fuadi, Hasan. 2008).
Jadi kesimpulannya difteri adalah penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae.
4.2 Saran
Karena difteri adalah penyebab kematian pada anak-anak, maka disarankan untuk anak-anak wajib diberikan imunisasi yaitu vaksin DPT yang merupakan wajib pada anak, tetapi kekebalan yang diperoleh hanya selama 10 tahun setelah imunisasi. Sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap 10 tahun sekali, dan harus dilakukan pencarian dan kemudian mengobati carier difteri dan dilkaukan uji schick.
Selain itu juga kita dapat menyarankan untuk mengurangi minum es karena minum minuman yang terlalu dingin secara berlebihan dapat mengiritasi tenggorokan dan menyebabkan tenggorokan tersa sakit. Juga menjaga kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan karena difteri mudah menular dalam lingkungan yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Dan makanan yang dikonsumsi harus bersih yaitu makan makanan 4 sehat 5 sempurna.




















DAFTAR PUSTAKA
·         Santosa,Budi . 2005 – 2006. Diagnosa Keperawatan NANDA . Jakarta : Prima Medika.
·         Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.
·         Suradi, SKp. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 1. Jakarta : PT Fajar Interpratama.
·         Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2. Ifomedika. Jakarta.
·         Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol 2. Ed. 15. EGC. Jakarta.
·         Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis dan NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC. 2013. Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional.  MediAction. Yogyakarta.